Baru-baru ini saya berkesempatan naik kereta api Sri Tanjung (lagi). Sudah lama sekali saya tidak naik kereta api ini, terakhir jaman saya masih SMA, lebih dari satu dekade yang lalu 😀
Banyak orang bilang kereta api ini sekarang sudah jauh lebih nyaman. Tentunya lebih nyaman disini dibandingkan dengan kondisinya dulu, bukan dibandingkan dengan kereta api lain yang beda kelasnya.

Mungkin kita semua sudah hafal kondisi kereta api ekonomi jaman dulu. Panas, berjubel, orang tiduran di lantai, lesehan di dekat sambungan gerbong sampai ada yang jongkok di dalam toilet. Barang2 bawaan, karung-karung isi jagung sampai kurungan ayam plus ayamnya memenuhi tiap sudut yang tersisa. Tidak ketinggalan parade pedagang asongan, pengemis, pengamen sampai copet dan tukang palak muter terus seperti kipas angin.

Satu lagi, kata orang penumpang kereta api ekonomi perlu memahami satu prinsip dasar : Jangan coba tanya kapan sampainya di stasiun tujuan, itu adalah satu hal yang tidak relevan. Intinya adalah sampai tempat tujuan dengan selamat. Sudah itu saja 😀

03 Dan Jembatan Ke-3 Mrawan
Jembatan kereta api Mrawan, Jember (Photo by: Raditiya Putera on Flickr)

Dari pengalaman saya tempo hari naik kereta api Sri Tanjung, saya perhatikan sudah banyak perbaikan disana-sini. Mungkin saja saya yang kuper belasan tahun tidak pernah lagi naik kereta api ini atau memang peningkatannya cukup signifikan, ini saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu dan rasakan memang banyak bedanya. Antara lain :

  • Kereta api Sri Tanjung berangkat dari stasiun awal (Lempuyangan, Jogja) dan sampai di stasiun tujuan perjalanan saya (Kalisetail, Banyuwangi) tepat waktu persis sesuai dengan waktu yang tertera di tiket. Ini memang tidak bisa serta merta disimpulkan bahwa selalu tepat waktu, namun kebetulan pas saya naik memang tepat waktu.
  • Tiket sudah mencantumkan nomor tempat duduk dan jumlah penumpang dibatasi sebanyak jumlah tempat duduk. Tidak ada lagi ceritanya rebutan tempat duduk, yang ada mungkin tukar tempat duduk dengan penumpang lain.
  • Toilet yang sudah lebih baik. Sudah ada tempat penampungan untuk kotoran dibawah lubang kloset alias kotoran tidak langsung dibuang ke rel. Tidak perlu gayung, tinggal tekan tombul flush untuk membersihkan kotoran. Semprotan kloset ada, washtafel mini ada, tissue gulung pun ada, kecuali belum habis atau ada yang ambil buat koleksi. Mungkin tinggal aroma pesing yang masih belum hilang tapi ini sepertinya lebih ke perilaku penumpang yang masih nggak mutu.
  • Di dalam gerbong sudah dilengkapi Air Conditioner (AC). Walau belum terintegrasi seperti halnya di gerbong kelas eksekutif dan masih menggunakan AC split rumahan, yang penting sudah ada penyejuk ruangan sehingga cuaca dalam gerbong cukup sejuk.
  • Adanya stop kontak listrik. Yang keranjingan gadget tidak perlu khawatir lowbat dan repot-repot bawa power bank. Tinggal colokkan charger aman sudah. Tapi ya jangan terus main gadget melulu seperti orang autis dan abai dengan sekitarnya. Kan gak lucu kereta sudah sampai ke stasiun tujuan malah kebablasan lupa turun karena terlalu konsen dengan gadgetnya.
  • Ada tempat sampah besar di ujung gerbong dan kantong plastik disetiap tempat duduk. Kalau masih ada sampah berserakan ya mohon maaf saja, beberapa orang masih belum bisa mendefinisikan kata tempat sampah dengan tepat.
  • Petugas rajin woro-woro melalui pengeras suara apabila kereta api sudah hampir sampai ke satu stasiun sehingga penumpang yang hendak turun bisa bersiap-siap terlebih dahulu.
  • Ada jadwal petugas kebersihan mengumpulkan sampah membuat gerbong tetap nyaman.
  • Bagi penumpang yang lapar dan lupa bawa bekal, petugas restorasi kereta rajin bolak balik menawarkan tiga macam menu wajib kereta : nasi goreng, nasi rames dan pop mie 😀
  • Tidak ada asap rokok. Bagi yang kedapatan merokok baik di dalam toilet, di dekat sambungan gerbong apalagi di dalam gerbong tanpa ampun akan diturunkan di stasiun terdekat. Mungkin maksudnya biar dapat beristirahat dalam damai merokok di ruang khusus perokok yang tersedia di stasiun-stasiun.
KA Sritanjung 196
Kereta api Sri Tanjung (Photo by: dhanur rananggono)

Kesimpulan menurut saya secara garis besar naik kereta api Sri Tanjung sekarang lebih nyaman. Dengan harga tiket yang tidak mengenal tuslah alias tetap tak heran sekarang banyak yang gemar naik kereta ini. Apresiasi untuk PT. KAI yang telah berusaha meningkatkan mutu layanannya.

Bagamana menurut anda, apakah naik kereta api Sri Tanjung sekarang lebih menyenangkan? atau sama saja dengan dulu?

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda
Silakan masukkan nama anda disini