Kecuali kapal laut, semua jenis transportasi tersedia dalam jumlah yang banyak jika kita ingin bepergian dari Yogyakarta ke Surabaya (atau sebaliknya). Dua ibukota provinsi ini memang sudah terkoneksi dengan baik.

Pilihan angkutan umum sangat melimpah. Jika anda terburu waktu ada pesawat terbang yang cepat dan nyaman, jika anda takut naik pesawat ada rangkaian kereta api lengkap di semua kelas, jika jadwal anda tidak pasti tapi masih ingin pergi dengan nyaman, ada layanan bus patas yang cepat dan adem. Jika itu semua masih kurang seru, anda bisa memacu adrenalin dengan naik armada bus ekonomi khas jawatimuran yang legendaris itu.

Sebaliknya jika kita ingin bebas berangkat kapan saja dan berhenti dimana saja, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi. Ada dua pilihan rute, bisa lewat jalan nasional antar provinsi atau bisa juga lewat jalan tol.

Jalan Arteri Nasional Jogja – Solo

Perjalanan kami kali ini adalah menuju kota Gresik. Agar lebih cepat sampai tujuan, kami memutuskan lewat jalan tol ketimbang lewat jalan nasional. Walau begitu, kami tidak bisa sepenuhnya lewat jalan tol karena wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sampai saat ini belum terjangkau oleh jalur jalan tol trans Jawa. Mau tidak mau kami tetap harus melewati jalan arteri nasional dulu sebelum bisa masuk ke jalan tol, dengan pilihan rute Jogja – Klaten – Boyolali atau Jogja – Klaten – Kartasura. Karena kami belum hafal jalur Klaten – Boyolali, akhirnya kami putuskan masuk tol nanti lewat gerbang tol daerah Kartasura.

Tepat pukul 2 lebih 15 menit dini hari kami mulai perjalanan dari kota Jogja. Sengaja kami berangkat pagi-pagi agar terhindar dari kepadatan jalan nasional Jogja-Solo yang kadang suka macet. Sesuai harapan, jalanan masih sangat lengang, tidak banyak kendaraan yang kami temui hanya beberapa truk besar, bus antar kota dan kendaraan lainnya yang memang biasa jalan malam.

Gerbang Tol Colomadu

Kurang lebih satu jam berkendara, sekitar pukul 3.30 pagi kami sudah sampai ke wilayah Kartasura, sekitar 11 km sebelum kota Solo. Di pertigaan Tugu Kartasura, kami belok kiri ambil jalan kearah kabupaten Boyolali. Kendaraan kami melaju terus mengikuti jalan ini sampai setelah kira-kira 3,3 km kami tiba di pertigaan jalan. Dari sini kita belok kanan untuk kemudian sampai di gerbang tol Colomadu.

Gerbang Tol Colomadu, Kartasura

Mulailah kita masuk ke jalan tol. Perjalanan kearah timur sangat lancar. Jalanan sangat lengang, bahkan adik saya malah bingung ini kenapa kita seperti sendirian di jalan tol. Sesekali kita mendahului truk atau kendaraan lain yang melaju pelan. Sesekali pula kita didahului oleh kendaraan lain.

Jembatan Klodran

Hanya beberapa kilometer dari gerbang tol Colomadu, kami melewati bawah sebuah jembatan simpang susun (interchange). Jembatan ini diberi nama Jembatan Klodran, dengan desain yang menarik menggunakan teknik cable stayed, cara yang sama seperti pada jembatang Pasupati di kota Bandung atau jembatan Suramadu di selat Madura.

Keunikan jembatan Klodran ini salah satunya memang ditujukan sebagai icon kota Solo. Para pengendara dari arah Jakarta, Semarang atau Surabaya dapat memperhatikan jembatan ini sebagai tengara bahwa perjalanan sudah sampai di kota Solo. Jika memang tujuan perjalanan adalah kota Solo, pengemudi dapat bersiap untuk keluar di exit tol Klodran

Jembatan Klodran. (Sumber foto : suaramerdeka.com)

Obat Mengantuk Paling Manjur : Tidur

Selain kemudahan dan kenyamanan ada sisi negatif dari perjalanan melalui jalan tol. Karakteristik jalan tol yang halus, lengang, lurus dan kalaupun ada tikungan, tidak akan berupa tikungan tajam membuat sopir menjadi tidak terlalu sibuk bermanuver, pada akhirnya membuat mereka menjadi mudah mengantuk.

Kombinasi mengantuk dan kecepatan tinggi menghadirkan bahaya besar. Dalam kecepatan kendaraan yang tinggi, reaksi atas situasi lalu lintas didepan tidak bisa dilakukan dengan mendadak. Jarak aman pengereman kendaraan akan jauh lebih besar dibandingkan saat berkendara dalam kecepatan rendah.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami putuskan untuk berhenti di rest area km 597 A di daerah Sokowidi, Magetan. Hampir satu jam lamanya kami berhenti untuk peregangan, memejamkan mata barang sejenak, sholat shubuh dan menikmati sedikit snack pengganjal perut.

Menuju Kertosono – Mojokerto

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Hari sudah mulai terang, tak lama berselang kami mulai melewati daerah hutan jati, kemungkinan ini sudah masuk wilayah hutan Saradan, Madiun. Lepas itu, pemandangan indah terhampar didepan kami. Tampak matahari terbit diujung area persawahan. Sebuah nikmat Tuhan yang sungguh tak patut kita dustakan.

Mentari pagi di ufuk timur

Tol Surabaya – Gresik

Lepas jam 6 pagi, perjalanan kami mendekati daerah Waru Surabaya. Sampailah kami ke gerbang tol Waru Gunung. Jangan lupa siapkan kartu e-toll untuk membayar biaya tol yang sudah kita lewati. Selepas gerbang tol Waru Gunung, kami ambil lajur kiri bersiap belok arah ke kiri untuk masuk ke jalur tol arah ke pelabuhan Tanjung Perak.

Jalan tol Waru – Tanjung Perak termasuk ruas tol yang padat. Selain kendaraan pribadi warga Surabaya dan sekitarnya, juga banyak truk-truk besar pengangkut barang menuju pelabuhan Tanjung Perak. Disini kendaraan melaju sedang. Sesampainya di gerbang tol Dupak, kami mengambil arah kekiri menuju kota Gresik. Perjalanan melalui tol Surabaya – Gresik melewati ladang garam tradisional.

Akhirnya, menjelang pukul 7 pagi, sampailah kami ke ujung perjalanan melalui jalan tol. Setelah melaju kurang lebih 18 km dari Dupak, Surabaya, sampailah kami ke gerbang tol Kebomas, Gresik. Perjalanan panjang melalui jalan tol berakhir disini. Total jalan tol yang kami lalui dari Colomadu, Kartasura sampai ke Kebomas, Gresik sepanjang kurang lebih 285 km kami tempuh selama 4 jam, dengan waktu istirahat sekitar 45 menit.

Tarif Tol Waru Gunung – Colomadu

Berikut tarif tol dari gerbang tol Waru Gunung Surabaya sampai ke Colomadu Kartasura untuk mobil MPV kecil (Avanza)

Tarif Golongan I bulan September 2019 dari Waru Gunung ke Colomadu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda
Silakan masukkan nama anda disini